Gibran End Game buku isu ijazah Wapres Gibran
Jakarta – Isu seputar pendidikan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, kembali memicu perdebatan publik setelah sejumlah pihak mengangkat narasi yang disebut “Gibran End Game”. Isu ini merujuk pada klaim bahwa Gibran tidak memiliki ijazah SMA, yang kemudian dipopulerkan lewat buku dan pernyataan yang disampaikan oleh pihak‑pihak kritis terhadap pemerintahan saat ini.
Rismon Sianipar dan Narasi “Gibran End Game”
Tokoh publik Rismon Hasiholan Sianipar, yang juga menjadi sorotan dalam kasus dugaan isu ijazah Jokowi, kembali menarik perhatian setelah memperkenalkan buku berjudul “Gibran End Game: Wapres Tak Lulus SMA”. Dalam buku dan pernyataannya di hadapan publik, Rismon mengklaim bahwa Wakil Presiden Gibran tidak pernah lulus sekolah menengah atas (SMA).
Rismon menyatakan bahwa berdasarkan data yang ia kumpulkan, Gibran hanya menempuh kelas 1 SMA di Orchid Park Secondary School sebelum melanjutkan ke diploma di luar negeri. Ia menilai bahwa ini berarti Gibran tidak memiliki ijazah SMA formal, sehingga menunjukkan inkonsistensi dalam riwayat pendidikannya.
“Sayangnya, negara sebesar ini memiliki wapres yang tidak pernah lulus SMA,” ujar Rismon di hadapan puluhan kamera dan pendukung yang mengikuti perkembangan isu ini melalui kanal berbagi video online.
Roy Suryo dan Buku Gibran’s Black Paper
Selain Rismon, Roy Suryo, yang dikenal dengan keterlibatannya dalam polemik ijazah Jokowi, juga menyinggung pendidikan Gibran dalam karya terbarunya yang disebut Gibran’s Black Paper. Dalam materi tersebut, Roy Suryo mengklaim akan membongkar sejumlah hal yang menurutnya menunjukkan “kejanggalan” dalam riwayat pendidikan Wakil Presiden.
Roy menyebut dalam buku itu berbagai temuan investigasi digital, termasuk klaim mengenai keterkaitan Gibran dengan akun media sosial tertentu yang menyangkut isu non‑pendidikan. Ia menyatakan bahwa semua temuan tersebut telah didokumentasikan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, meskipun detail lengkap buku tersebut belum dipublikasikan secara resmi.
Reaksi Publik dan Dampaknya
Isu yang disebut Gibran End Game telah menimbulkan tanggapan beragam dari kalangan masyarakat. Beberapa pendukung pemerintah menilai bahwa narasi seperti ini adalah political noise yang sengaja diperbesar untuk menyerang figur politik. Sementara pihak lain menganggap hal ini penting untuk diklarifikasi demi menjaga kejelasan rekam jejak pejabat publik.
Meskipun menjadi perbincangan hangat di media sosial, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Istana Kepresidenan, pemerintahan, atau lembaga pendidikan terkait kebenaran klaim‑klaim tersebut.
Mengapa Ini Jadi Isu?
Kontroversi semacam ini bukan sesuatu yang biasa terjadi dalam dinamika politik Indonesia. Tuduhan terkait riwayat pendidikan seorang pejabat negara, apalagi wakil presiden, mencerminkan ketegangan politik yang kuat dan dapat memengaruhi persepsi publik. Banyak pihak mengingatkan bahwa isu semacam ini harus ditanggapi dengan hati‑hati dan berdasarkan fakta, bukan sekadar klaim tanpa bukti yang kuat.
Author: Cakrawala Nusantara X Harum108